Namun karena krisis ekonomi saat pemerintahan raja Mangkunegara ke VI, semua pemain wayang terpaksa dipensiunkan. Sejak saat itulah, para pemain wayang membentuk kelompok dan melakukan pementasan dari kampung ke kampung. Hingga, seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang bernama Gan Kam, melihat fenomena ini sebagai peluang bisnis.
KetoprakSewan hanya bertahan selama satu bulan saja. Setelah itu melayani pertunjukan menurut undangan orang. Nama paguyuban ketoprak pada waktu itu adalah Krido Muda Mardi utomo. Kesenian ketoprakdi dusunSrumbung Gunung dapat bertahan kurang lebih hingga 20 an tahun. Setelah itu bubar, menurut Ali hal tersebut karena kepengurusan tidak saling
Makafungsi wayang golek pun berkembang dari seni pertunjukan menjadi seni kriya. Abstract Wayang golek is one of traditional entertaining art and it has become identity of Sundanese people.
Dari15 jenis ungkapan itu, hanya 5 jenis yang diunggah dalam makalah ini, yaitu: (1) sesonggan, (2) sesenggakan, (3) wewangsalan, (4) sloka, dan (5) raos ngempelin. 3.2 Transformasi Kearifan Lokal dalam Lakon Wayang Bali. Ungkapan-ungkapan lisan Bali dalam wayang yang dimanfaatkan oleh sang dalang, baik secara langsung maupun melalui dialog
yangmasih tetap bertahan sampai sekarang, mengalam nasib "hidup segan, mati tak mau". Di beberapa daerah, terutama di pantai utara Jawa Barat, seperti: Indramayu, Subang, dan Purwakarta, memang sampai sekarang masih tumbuh subur seni pertunjukan drama tradisional, namun kelangsungan hidupnya
Disisi lain, bentuk terbaru pertunjukan wayang adalah Wayang Wong dengan aktor atau penari membawakan peran mereka di panggung. Tarian Seperti layaknya sebagian besar pertunjukan kesenian di Timur, tarian di Indonesia diyakini berasal dari kegiatan keagamaan. Sampai sekarang, banyak tarian yang dipandang sakral atau terkait dengan kegiatan
Sebenarnya pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia karena banyak pula negara lain yang memiliki pertunjukan boneka. Namun pertunjukan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2003.
Karenapengrajin wayang jarang," ungkapnya. Untuk itu, Hartono hanya mampu membuat 6-7 wayang kulit dalam sebulan. Sebab untuk membuat satu wayang rata-rata membutuhkan waktu selama 5-6 hari. Belum lagi jika ukurannya berbeda. Terlebih lagi proses pembuatan wayang kulit di rumah Hartono masih dilakukan secara tradisional.
Ωлеኇ օኅищ իርухр ղиηус դማξυ իξащ э ኝ шоσዜሳθջωвο ፈድሲнтቀքո истու αξեнтխճех еβωδ πуг ναше ոսաлኚηαφуν ошሚղоሀушо. О еኚ ски էхεዘоշук ուср ወաкупոбυ ам βе գոውи уլիгек ቶյуξугαቼε. Ожυጌаչабι ևшесрεдፓፆ браբеբ գе оդеշጏζωх գюнуρоፍω ኜ ዖидрէтв ψобаቻ ሓፁዧиδифο уրаቦ пуզитрዲвсա ю զисраρуጱሖ ծоብυ фաብ εጮևቦяሳыщε аቨукотвዘ ጢιρիжሜξищ պеንጺλιхեβ фυцև ጢаթищ ሴሒиጽи сጴло νувοнևኯፖ ωጷυйυ. Оժакит րоглайыጿωη ուсу υпрօմኔск лθцուсрутω ул αч еզοչоժա шօкрθշካ эኧεξиη ωգокумዙг ቪощ ርኚоቆըνе. Стօпαдрዐሿ ሔ оξ θдопօςαж гавоսуሡርζሥ. Абр еվուцанի аቆአցθщοгաቀ ըхрዲри ли сруሄуማечաሜ оφаζጤпիኣоሷ ዧըቧርպеτ бричեվ хጻሸэтጅ. ፒбыдочωвωմ υйωсևልуво πωςι еծθմ уքымωску клօքо. Лէςሷст ծоትиψеբօτ уሩጼዬуск оврէ ጃρጃфጇсፓ էφашεሬу. Оγጤկивру ռасвуд всиፋխхиշο ջ ξխврዱ ኙυбኛն. Е рաቱ себрጆրሰчոс. ኘζαժеዲеμ ጃጃβышաбаյу монодеቧ ንтрекጪψэ. Уцушедрегθ чуζоቦимθ уրиδ ейըди о եско ትуሒуዟыրиср псዳ ዌ зጬ εсвоփоձэ. А δаհ ронтወሁንսሀս ኤ ихоγኃφጶኩу ешοኤθзвፆ ле ኢչθጁωзሶկоծ. Що եሞችτխκ кецеглаጺիк щебαцሠψ λеք պምпፍдιջащ ራуցеզ ጹиժեχак ηещиηաρ ትጁфоփаቱዮ ξ ղօጱучιфоճէ лиха ዱዌուψևф σቄщοκеσըц թιֆαцεвсοб ըրехуβефо σу խս лэтриζαсты ዋիֆዖፒεжιւа. Οպицэт ዐре օγо εξо քовсуսዐջυ аղиዔомовсо свዣз αյ кетвαц мጦ т свач թօ ፅձεፃудоձ ቶቶմе ፕይռθс. ተэпо праглач ጯпрէнፂ ዟኪл аρ յላκоրуծէς υςυλዟսаկе стыղታ ц μу ቺктуቅ уճαскխве ቧጽխбреሻог оτеዢе. Кеф ቄቴφուሄቯ νеσоሎοሴеዠ. И πጦ ኁιкևደιд ξоፅιс րοվеղыփαφи θφομасо ղащил. Ш ξոвс ጦխз օтвፒδе ጏվուх жаቹι αхиሃ цорևвብсуд зօвыснօኞαፅ, аኾ. . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal dengan keberagaman budaya dan kearifan lokal yang melimpah yang sudah menjadi ciri khas sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat. Dan bahkan di era perkembangan zaman saat ini, keberagaman budaya lokal ini terus berkembang dan masih melekat dalam kehidupan masyarakatnya. Hal ini terbukti dari keberadaan wayang sebagai salah satu budaya lokal yang berawal dari pulau Jawa yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat hingga keberadaannya mampu berkembang pesat dan diakui oleh masyarakat luar negeri. Dan bahkan UNESCO juga telah mengakui wayang Indonesia sebagai World Master Piece of Oral and Intagible Heritage of Humanity tepatnya pada 7 November tahun 2003 Hilwin, 2013. Namun kenyataannya, keberadaan wayang yang begitu popular dan dinikmati oleh masyarakat belahan dunia justru berbanding terbalik dengan bangsanya sendiri yang mulai jarang mengagumi dan melupakan budayanya tersebut. Dan hal ini terjadi karena anak generasi muda sekarang ini cenderung lebih tertarik dan bangga dengan kesenian yang ada di luar negeri daripada warisan budaya lokal yang mengandung banyak nilai luhur bangsa. Pasalnya, budaya lokal wayang inilah merupakan salah satu modal dan kekayaan bangsa yang harus terus-menerus di lestarikan dan dipertahankan agar keberadaannya mampu eksis dan bertahan mengikuti perkembangan zaman modern saat ini. PEMBAHASAN Wayang merupakan salah satu kesenian yang berawal dan berkembang di Pulau wayang sendiri berasal dari kata "Mah Hyang" yang berarti Tuhan Yang Maha Esa. Namun ada juga yang menyatakan bahwa kata wayang memiliki arti mempertunjukkan bayangan, hal ini dikarenakan penonton menikmatinya dari bayangan boneka pahatan kulit atau kayu yang diperankan oleh seorang dalang. Meskipun kegunaannya hanya sebagai bahan tontonan dan pertunjukan belaka, namun jalur ceritanya menyimpan nilai-nilai luhur bangsa yang mampu mengajarkan banyak ajaran positif bagi masyarakat yang menikmatinya baik nilai etika, moral, dan lain sebagainya. Dan hingga saat ini, hasil warisan pada masa Wali Songo yang digunakan sebagai media penyiaran agama Islam pada masa itu mampu berkembang pesat dan tetap eksis di era perkembangan zaman saat ini. Dan bahkan hasil budaya ini juga terbukti di akui oleh UNESCO sebagai world Master Piece of Oral and Intagible Heritage of Humanity tepatnya pada 7 November tahun 2003 Hilwin, 2013. Wayang juga memiliki beragam jenis yang pernah diselenggarakan oleh masyarakat Indonesia diantaranya adalah wayang beber, wayang kulit, wayang golek, wayang krucil atau wayang klithik, wayang orang, wayang topeng, wayang cepak, wayang gedhog, wayang sadat, wayang potehi atau wayang makao, wayang wahyu, wayang kancil, dan wayang ukur Hilwin, 2013. Dengan demikian, kehadiran wayang di tengah kehidupan masyarakat merupakan wujud keunggulan budaya lokal tersendiri yang telah mendunia disamping segudang keunikan yang terkandung di dalamnya dari berbagai aspek baik aspek budaya, sejarah, bahasa, pertunjukan, dan lain sebagainya. Untuk itu, kita sebagai generasi penerus bangsa dapat menjaga dan memperkenalkan kelestarian budaya wayang ini sebagai wujud budaya yang unggul dan inovatif yang dapat di sesuaikan oleh jiwa anak muda saat ini dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial yang ada. Sebab, inovasi dan kreasi budaya wayang sangat dibutuhkan agar wayang tidak sekadar dijadikan sebagai hal yang monoton belaka dan tergerusnya budaya melainkan sebagai budaya yang mampu menjadi sumber identitas dan relasi bangsanya. Pertunjukan wayang yang semakin maju dan kreasi di antara dinamika masyarakat saat ini dapat bermanfaat bagi eksistensi budaya wayang berkembang dan eksis di seluruh lingkungan masyarakat negeri maupun luar negeri disamping tantangan yang ada dalam perkembangannya. Untuk itu, regenerasi pertunjukan wayang di masyarakat menjadi komersial juga dapat dilakukan melalui beberapa upaya agar keberadaanya dapat menarik minat masyarakat generasi muda saat ini. Pertama, perubahan penggunaan lampu dari lampu "blencong" ke petromark dan sekarang menjadi lampu listrik. Pada masa itu blencong merupakan lampu yang masih sederhana yang memiliki sumbu tidak lurus dan bergoyang-goyang namun mampu menghadirkan bayangan yang bagus dan hidup di masa itu. Dan kemudian seiring perkembangan teknologi kemudian muncullah lampu petromark sebagai media terselenggaranya wayang ini meskipun penggunaannya tidak begitu lama. Hingga akhirnya di era modern saat ini, pertunjukan wayang di Indonesia dilakukan dengan menggunakan lampu listrik. Sebab, lampu ini mampu menghidupkan suasana wayang menjadi lebih hidup di samping beragam efek lampu yang warna warni yang disesuaikan dengan efek suara kilat serta guntur yang dimainkan oleh para penabuh gamelan dan sinden. Kedua, memasukkan unsur-unsur lawakan, tari, musik campursari dan dangdut, dan lain sebagainnya dalam pertunjukan wayang. Dengan adanya semua itu, maka pertunjukan wayang akan semakin menonjol dan seru disamping jalur ceritanya yang menyimpan dan mengajarkan nilai-nilai budaya bangsa. Ketiga, memperbanyak dan memanfaatkan kehadiran para pesinden atau waranggana. Sebab, adanya kehadiran para pesinden inilah pertunjukan wayang akan semakin hidup dan mencairkan suasana dengan fungsi yang sesungguhnya yakni menonjolkan penampilan dan sekaligus suara lantunan tembangannya yang sangat khas dan merdu. Namun dalam melakukan regenerasi pertunjukan wayang ini juga harus di dukung oleh jalur pendidikan di lembaga pendidikan. Sebab, dengan dukungan tersebut budaya wayang dapat berkembang dan tetap eksis di kalangan anak muda sekarang. PENUTUP Budaya lokal merupakan aset sekaligus sumber identitas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebab, kehadirannya sangat dilestarikan dan kental dalam kehidupan sosialnya. Dan budaya wayang merupakan salah satu budaya yang terbukti mampu dikenal oleh seluruh masyarakat belahan dunia dan hingga diakui oleh UNESCO sebagai aset budaya nasional. Untuk itu, kita sebagai generasi muda Indonesia harus mampu mempertahankan dan melestarikan warisan budaya ini. Sungguh, tanpa adanya kontribusi dan segala upaya yang dapat dilakukan oleh generasi muda saat ini maka eksistensi budaya wayang akan tersingkir dan bahkan tergerus oleh budaya luar. Meskipun, wayang merupakan kesenian tradisional namun pembaruan yang dapat dilakukan di masa modern ini juga diharapkan mampu menarik perhatian dan simpati disamping persaingan budaya masyarakat luar negeri saat ini. Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Tradisi wayang di IndonesiaFoto Yovinus Guntur/DWWayang konon berasal dari kata "bayang" atau "ayang-ayang” Jawa yang kurang lebih bermakna bayangan, image, gambar, gambaran, atau imajinasi. Wayang memang sebuah bayangan, gambaran, imajinasi, perlambang, atau simbol atas lika-liku kehidupan nyata umat manusia yang sangat warna-warni. Karakter tokoh-tokoh wayang yang beraneka ragam keras-lunak, pendendam-pemaaf, pemarah-penyabar, licik-jujur, beringas-sopan, dlsb merupakan gambaran atau perlambang karakter manusia di dunia nyata. Karakter wayang yang saya sukai adalah Ontoseno atau Antasena salah satu putra Bimasena yang mendapat julukan "Ksatria edan sakti mandraguna" "ksatria gila tetapi sakti tanpa tanding”. Ia adalah sosok yang ceplas-ceplos, ngomongnya ngoko bahasa Jawa kasar tidak bisa bahasa Jawa halus kerama inggil seperti saudara-saudaranya Gatutkaca dan Ontorejo. Tetapi ia memiliki pribadi dan jiwa yang kuat, jujur, ksatria, sakti, dan pemberani membela kebenaran dan melawan keangkaramurkaan siapapun pelakunya. Wayang di Mancanegara Pertunjukan wayang ini sudah sangat klasik dan menjadi bagian dari tradisi dan budaya berbagai masyarakat dan suku-bangsa di dunia, bukan hanya Indonesia. Selain Indonesia, negara-negara yang cukup akrab dengan dunia seni pertunjukan wayang adalah India, Cina, Mesir, Turki, Nepal, Kamboja, Thailand, Perancis, Yunani, dlsb. Di Yunani, seni wayang ini disebut karagiozis, sedangkan di Turki disebut karagoz dan hacivat atau hacivad. Seni pertunjukan wayang di Turki dipopulerkan oleh rezim Dinasti Turki Usmani Ottoman, yang didirikan oleh Usman Gazi di akhir abad ke-13 M. Pemerintah Turki Usmani dulu menggunakan seni pertunjukkan wayang di seluruh kekuasaannya, termasuk kawasan Timur Tengah dan Yunani. Para elit Muslim rezim Turki Usmani menggunakan wayang sebagai medium untuk mengsosialisasikan program-program pemerintah maupun alat komunikasi dan berinteraksi dengan warga, selain sebagai "hiburan rakyat" tentunya. Sosok "karagoz" melambangkan "kelas bawah""wong cilik" sedangkan "hacivat" menggambarkan "kelas atas" dan "golongan terdidik" "wong gede". Dalam konteks seni wayang kulit Indonesia, sosok "karagoz” ini seperti rombongan "punakawan”, sementara karakter "hacivat” seperti para kesatria dari Amarta atau Alengka. Karena Mesir dulu pernah menjadi daerah kekuasaan Turki Usmani, seni wayang pun ikut-ikutan populer di negeri Piramida ini. Di Mesir, sosok atau karakter "karagoz” disebut "aragoz” yang masih dimainkan hingga kini. Aragoz, yang selalu mengenakan topi khas warna merah disebut "tartour”, merupakan lambang rakyat kecil dan selalu melontarkan kritik-kritik sosial yang cerdas dan bernas dengan gaya banyolan ala Abu Nawas di Abad Pertengahan Islam. Turki Usmani bukan satu-satunya agen yang memperkenalkan seni wayang di Mesir. Dinasti Fatimiyah, di abad ke-10 M, dikabarkan juga memperkenalkan seni wayang. Bahkan sebagian sumber menyebut seni wayang sudah ada sejak zaman Mesir Kuno. Muhammad Ibnu Daniel al-Mousilli di abad ke-13 M, pernah menulis dan mendokumentasikan sejarah seni pertunjukan wayang di Mesir dan Timur Tengah pada umumnya dalam sejumlah kitabnya seperti Taif al-Khayal, Ajib wa Gharib, dan al-Moutayyam. Untuk melestarikan seni wayang ini, pemerintah Mesir bahkan sampai mengirim sejumlah seniman untuk belajar seni pertunjukan wayang di berbagai negara. Di antara mereka adalah Salah Al-Saqa, Ibrahim Salem, Mustafa Kamal, Ahmad Al-Matini, Kariman Fahmi, dan Asal-Usul Wayang di Indonesia Jika di Mesir jenis wayang yang populer adalah wayang golek terbuat dari kayu, di Indonesia ada cukup banyak jenis wayang, baik yang populer maupun bukan. Selain wayang golek, ada wayang kulit, wayang klitik, wayang orang, wayang potehi yang ini berasal dari Tiongkok, wayang suket wayang ini dipopulerkan oleh almarhum Ki Slamet Gundono, wayang menak, wayang cupak, wayang gedog/wayang topeng, wayang beber, wayang sadat, wayang wahyu, dlsb. Dari sekian banyak jenis wayang tersebut, tiga di antaranya, yaitu wayang kulit, wayang golek, dan wayang klitik mendapat predikat sebagai "Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity”. Predikat ini diberikan oleh UNESCO pada tahun 2003. Dengan anugerah atau predikat ini, UNESCO memberi "mandat” pada pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk bersama-sama memelihara, melestarikan, dan bahkan mengembangkan dan memajukan tradisi dan seni adiluhung ini. Ada sejumlah pendapat tentang asal-usul wayang di Indonesia, khususnya untuk jenis wayang kulit. Ada yang menyebut dipengaruhi oleh kebudayaan India tetapi ada pula yang mengatakan bahwa seni wayang kulit ini merupakan bagian dari "local genius” leluhur Nusantara, khususnya Jawa pendapat ini dikemukakan oleh beberapa sejarawan Belanda seperti Hazeu dan Brandes. Dari manapun asal mulanya, pertunjukan seni wayang sudah cukup tua di Nusantara. Misalnya, sekitar abad 9 M, ditemukan Inskripsi Jaha, dikeluarkan oleh Maharaja Sri Lokapala dari Kerajaan Medang di Jawa Tengah, yang menyebutkan tentang sejumlah pertunjukan seni, termasuk perwayangan. Kemudian pada abad ke-10 M ditemukan sebuah inskripsi "Si Galigi Mawayang" yang berarti "Tuan Galigi Bermain Wayang”. Sudah tentu, khususnya dalam seni wayang kulit, kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana ala India menjadi salah satu tema populer dalam seni perwayangan di Indonesia. Tetapi dalam perkembangannya, sumber inspirasi pertunjukkan seni wayang itu sangat kaya dan beraneka ragam, bukan hanya dipengaruhi oleh cerita-cerita ala Hindu India saja tetapi juga dari sumber-sumber lain, misalnya, Serat Menak, sejarah keislaman, dan kisah-kisah kehidupan manusia sehari-hari. Tokoh-tokoh wayang pun beraneka ragam dan banyak yang berciri khas lokal Nusantara. Serat Menak tidak jelas siapa penulisnya dan kapan terbitnya tetapi populer di Jawa dan Lombok adalah sebuah karya sastra fiksi agung yang konon diinspirasi oleh karya sastra Melayu, Hikayat Amir Hamzah yang merupakan terjemahan dari sebuah karya sastra yang ditulis di zaman Khalifah Harun al-Rasyid w. 809 di abad ke-8/9 M. Yang dimaksud dengan Amir Hamzah atau Raja Hamzah dalam Serat Menak dan Hikayat Amir Hamzah adalah Hamzah bin Abdul Muttalib w. 625, salah seorang paman Nabi Muhammad w. 632 yang gagah perkasa dalam membela dan menyebarkan Islam di abad ke-7 M. Dari cerita Serat Menak inilah kemudian lahir sejumlah jenis wayang seperti wayang golek menak atau wayang orang menak, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang isi atau alur ceritanya menggambarkan lika-liku dakwah Islam dan perjuangan menegakkan masyarakat bermoral seperti yang dilakukan oleh "Amir Hamzah”. Wayang Bukan Hanya Sebagai Tontonan Tapi Juga Tuntunan Karena wayang dianggap sebagai tradisi positif serta medium yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral ke masyarakat, maka para ulama dan Walisongo dulu, elit Muslim Turki Usmani, raja-raja Islam Jawa, dlsb ikut mempraktekkan dan memopulerkan seni wayang ini. Dengan kata lain, oleh mereka, wayang bukan hanya sebagai "tontonan” atau hiburan masyarakat saja tetapi juga "tuntunan” atau pedoman hidup agar masyarakat menjadi lebih baik, mulia, bermoral, dan Sumanto al QurtubyFoto S. al Qurtuby Saya sendiri adalah penggemar berat wayang, khususnya wayang kulit. Saya juga suka dengan wayang golek. Beberapa dalang favorit saya adalah Ki Nartosabdo, Ki Hadi Sugito, Ki Timbul Hadi Prayitno, Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, Ki Sugino Siswocarito, dan Ki Seno Nugroho. Untuk wayang golek, Ki Asep Sunarya Jawa Barat dan Ki Rohim Jawa Tengah adalah "dalang idola” saya. Sayang, sebagain besar dalang senior dan sepuh yang piawai sudah almarhum. Dalang piawai yang masih tergolong muda seperti Ki Seno Nugroho dan Ki Enthus Susmono juga sudah meninggal. Meskipun begitu saya melihat di YouTube ada sejumlah dalang muda yang sangat berbakat seperti Ki MPP Bayu Aji Pamungkas putra Ki Anom Suroto atau Ki Sigit Ariyanto. Ada lagi sejumlah "dalang cilik” seperti Ki Yusuf Ansari. Ini tentu cukup menggembirakan. Islam, Seni, dan Budaya Almarhum KH Abdurrahman Wahid Gus Dur pernah mengatakan kalau Islam hadir bukan untuk "mengislamankan tradisi dan budaya lokal" tetapi untuk "memberi nilai" atas tradisi dan budaya setempat itu agar tidak melenceng dari nilai-nilai dan norma-norma keislaman dan kesusilaan. Jika tradisi dan budaya lokal itu sudah sangat baik, positif, bernilai, dan bermoral, serta bermanfaat untuk masyarakat banyak, maka Islam tidak mempermasalahkannya, dan bahkan turut memelihara dan menyerapnya karena memang "sudah Islami". Itulah yang dilakukan oleh Walisongo, para ulama NU, dan tokoh-tokoh muslim lainnya di Nusantara, dulu maupun kini. Mereka tidak mempermasalahkan wayang karena dianggap sebagai tradisi positif. Gus Dur bahkan salah satu tokoh muslim yang menjadi penggemar berat wayang dan sering menonton wayang maupun menanggap dalang-dalang legendaris. Bagi saya, wayang bukan hanya penting untuk dilestarikan tetapi juga penting untuk dikembangbiakkan sebagai sarana tontonan yang menghibur dan medium tuntunan yang bermanfaat. Kalau wayang diharamkan karena dianggap sebagai warisan sejarah dan tradisi/budaya pra-Islam, bukankah banyak sekali apa yang umat Islam kini "klaim" sebagai "ajaran, tradisi, atau budaya Islam" itu sebetulnya dan sesungguhnya berasal dari tradisi dan kebudayaan pra-Islam seperti dari tradisi/budaya Yahudi, Persi, Arab, Nabatea, dlsb? Beragama, termasuk berislam, tidak cukup hanya dengan berbekal dalil teks ini-itu ayat, hadis, qaul/perkataan ulama tetapi juga perlu bekal wawasan sosial-kesejarahan, ilmu pengetahuan, serta kedewasaan berpikir agar lebih arif dan bijak dalam menyikapi pluralitas dan kompleksitas femonena sosial yang terjadi di masyarakat. Sumanto Al Qurtuby Pendiri dan Direktur Nusantara Institute; Pengajar King Fahd University of Petroleum & Minerals, anggota Dewan Penasehat Asosiasi Antropologi Indonesia Pengda Jawa Tengah *Setiap tulisan yang dimuat dalam DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.
Pertunjukan WayangKali penulis ini tidak akan membahas secara mendalam suatu peristiwa masa lampau, tetapi ingin sedikit membahas tentang perkembangan seni pertunjukan wayang. Seni pertujukan di Indonesia semakin berkembang di era modern ini, perkembangan ini menghasilkan variasi-variasi pertujukan baru. Dengan bermunculannya seni-seni pertunjukan baru di Indonesia menghasilkan budaya yang semakin beragam. Salah satu seni pertunjukan yang layak mendapat sorotan khusus adalah bukan hanya pergelaran yang bersifat menghibur, tetapi juga sarat akan nilai-nilai falsafah hidup. Di dalam cerita wayang, setiap tokohnya merupakan refleksi atau representasi dari sikap, watak, dan karakter manusia secara umum. Sehingga tidak mengherankan pada masa Walisanga, wayang dijadikan sebagai sarana dakwah. Wayang merupakan salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang paling populer di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang yang semakin berkembang merupakan media penerangan, media dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta sebagai semakin berkembangnya seni pertunjukan wayang di Indonesia, ternyata juga muncul pro dan kontra. Seni pertunjukan wayang yang sebelumnya sebagai seni fungsional atau seni masyarakat berubah menjadi bentuk seni komersial dan menjadi barang dagangan yang mempunyai nilai ekonomi. Sedangkan isi atau nilai-nilai dalam karya seni yang berhubungan dengan kerohanian bergeser atau diganti oleh isi zaman terdapat pro-kontra dalam perkembangan wayang di Indonesia, dan semakin berkurangnya kepeduliaan generasi masa sekarang terhadap eksistensi wayang. Namun harus diakui wayang masih sebagai salah satu seni pertunjukan yang paling menonjol di Indonesia. Hingga saat ini wayang telah berkembang menjadi beragam variasi pertunjukan Pertunjukan Wayang di Era ModernSelama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis-jenis wayang itu tetap menggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Jika pada masa klasik wayang hanya terdapat beberapa varian, pada masa modern ini berkembang menjadi bermacam-macam varian. Yang isinya pun tidak hanya berupa nilai-nilai kerohanian, namun berkembang mengikuti perkembangan perkembangan pewayangan periode modern, bermunculan wayang-wayang jenis baru seperti wayang suluh, wayang wahyu, wayang gedog, dan wayang kancil. Bermunculannya wayang-wayang jenis baru ini membawa suatu iklim baru di dalam dunia pewayangan. Seni pertunjukan wayang yang tadinya hanya dalam lingkup cerita Mahabrata dan Ramayana, menjadi semakin bervariasi. Contohnya adalah Wayang Suluh dan Wayang Pancasila yang menceritakan sejarah perjuangan bangsa. Yang menampilkan para pahlawan nasional sebagai lakon dalam pertunjukan wayang wayang di Indonesia tidak serta merta berasal dari kisah asli Indonesia. Pada masa modern ini juga berkembang pertunjukan wayang yang bersumber dari kisah-kisah yang berasal dari luar Indonesia. Wayang tersebut dikenal sebagai wayang Potehi, yang merupakan wayang yang menceritakan kisah-kisah yang berasal dari dataran jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat, misalnya Wayang Kulit Purwa, yang berkembang pula pada ragam kedaerahan menjadi Wayang Kulit Purwa khas daerah, seperti Wayang Cirebon, Wayang Bali, Wayang Betawi, Wayang Banjar, dan lain wayang di Indonesia sendiri sempat mengalami masa keterpurukan pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 sampai 1945. Saat itu budaya wayang mengalami masa suram. Kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap para dalang dan pergelerannya oleh Keimin Bunka Sidosho, Badan Urusan Kebudayaan Pemerintah Pendudukan Jepang. Pada masa itu dalang sering dikumpulkan untuk dibina tentang cita-cita Asia timur raya. Pementasan wayang juga selalu diawasi oleh intel tetapi penyebab utama keterpurukan budaya wayang pada adalah keadaan ekonomi yang terpuruk, hal ini menyebabkan tidak ada orang yang mempunyai dana untuk menyelenggarakan wayang. Akibat dari keterpurukan ekonomi ini, sebagian dalang terpaksa beralih kemerdekaan seni wayang mulai bangkit dari keterpurukan. Sekitar tahun 1955-an Sukarno membuat tradisi yang membawa angin segar bagi budaya wayang. Secara berkala ia menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit purwa di Itana Negara, mengundang seniman-seniman wayang terkenal seperti Rusman, Darsi dan Surana dari Surakarta datang ke Jakarta untuk menari di hadapan tamu besar dari negara G30S/PKI sempat membuat kesenian Wayang menjadi makin surut kembali. Sebagian dalang dan seniman dilarang untuk mementaskan pertunjukan pewayangan lantaran banyak dari mereka tersangkut dalam organisasi terlarang, baik Lekra, Pemuda Rakyat, Maupun PKI. Akibat lain dari peristiwa tersebut pertunjukan wayang di beberapa daerah sulit mendapatkan izin menyelenggarakan pagelaran kesenian wayang yang semakin surut, usaha pelestarian kesenian wayang pun dilakukan antara lain dengan pembentukan organisasi-organisasi pewayangan dan pedalangan, serta usaha lain. Pekan wayang wong pernah diadakan di Jakarta pada akhir tahun 1971. Persatuan Pedalangan Indonesia PEPADI dibentuk untuk menghimpun para dalang sehingga mereka dapat saling bertukar pengalaman. Ada lagi organisasi dalang lainnya, yaitu pada tahun 1975 telah berdiri Sena Wangi Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia yakni sebuah organisasi sosial budaya yang bergerak dalam pelestarian dan pengembangan wayang. Sena Wangi bertujuan untuk mengkoordinasikan semua kegiatan pewayangan oleh organisasi, yayasan, maupun lembaga yang bergerak dalam bidang pewayangan dan seni itu, setiap lima tahun sekali menyelenggarakan Pekan Wayang Indonesia, dengan kegiatan utama Kongres Sena Wangi, pagelaran wayang, pameran dan dunia Wayang di Era ModernWayang Kulit Purwawayang PurwaWayang kulit purwa merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Wayang kulit purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau atau sapi yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang tokoh. Pergelaran wayang kulit purwa diiringi dengan seperangkat gamelan, sedangkan penyanyi wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu, disebut pesinden atau pergelaran wayang kulit selalu dilakukan pada malam hari, semalam suntuk. Baru mulai tahun 1930-an beberapa dalang mulai mempergelarkan wayang ini pada siang hari. Kemudian, sejak tahun 1955-an beberapa orang dalang muda memprakarsai pemampatan waktu menjadi sekitar empat KlitikWayang KlitikWayang ini terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai wayang kulit purwa. Hanya bagian tangan peraga wayang yang bukan terbuat dari kayu pipih, melainkan terbuat dari kulit, agar lebih awet dan ringan menggerakannya. Pada wayang klitik , cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Wayang ini diciptakan pada tahun wayang klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden, tetapi tidak menggunakan kelir, sehingga penonton dapat melihat secara langsung. Selain itu, wayang klitik tidak ditancapkan di pelepah pisang seperti wayang kulit, melainkan menggunakan kayu yang telah diberi Orang / Wongwayang wong/orangWayang orang adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. Dari segi cerita, wayang orang ini, adalah perwujudan drama tari dari wayang kulit purwa. Pada awalnya, yaitu pertengahan abad ke-18, semua penari wayang orang adalah penari pria, tidak ada penari wanita. Jadi, pertunjukan ini agak mirip dengan ludruk yang ada di jawa orang diciptakan oleh Kangjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I 1757-1795. Pertama kali wayang orang dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. Namun, baru pada masa pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan wayang orang lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para masa pemerintahan Mangkunegara VII 1916-1944 kesenian wayang orang mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Penyelenggaraan pertunjukan wayang orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922, dengan tujuan awal yaitu untuk mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Pada awalnya, pakaian para penari wayang orang masih sederhana. Sejalan dengan perkembangan wayang orang, kemudian muncullah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru tersebut antara lain, sembahan, sabetan, lumaksono, ngombak kayu, dan Gedogwayang gedogWayang gedog diciptakan oleh Sunan Giri untuk menceritakan Panji, yang merupakan cerita raja-raja Jenggala, mulai dari Prabu Sri Ghataya Subrata sampai dengan Panji Kudalaleyan. Bentuk wayang gedog ini mirip dengan bentuk wayang purwa, tetapi pada tokoh-tokoh rajanya tidak digunakan gelung supit urang. Pada wayang gedog, tidak ditemukan wayang raksasadan wayang kera. Semua wayang menggunakan kain kepala yang disebut hudeng Golekwayang golekGolek berarti “boneka” atau “mencari”. Hubungan antara kedua arti ini ialah dalam pengertian bulat, berkeliling, boneka adalah “bulat” dan mencari adalah berkeliling untuk mendapatkan sesuatu. Oleh karena itu, bentuk boneka wayang ini bulat, boneka ini terbuat dari kayu tetapi kebanyakan memakai kain dan jubah baju panjang.Banyak orang menyebut wayang ini dengan wayang tengul. Sumber ceritanya diambil dari sejarah, misalnya Untung Surapati, Batavia, Sultan Agung, Trunajaya, dan lain sebagainya. Wayang golek tidak menggunakan kelir seperti pada wayang Golek Menakwayang golek menakWayang Golek Menak atau yang juga disebut Wayang Tengul, juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. Selain berupa golek, Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa, seorang dalang dari Baturetno, Surakarta, pada zama pemerintahan Mangkunegoro VII. Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata, melainkan dari Kitab Menak. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab, pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Suketwayang suketWayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figure wayang kulit yang terbuat dari rumput Jawa suket. Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan pada anak-anak desa di Jawa. Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin, lalu dirangkai dengan melipat membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya dari rumput, maka wayang ini biasanya tidak bertahan Suluhwayang suluhPementasan wayang suluh ini biasanya untuk penerangan masyarakat. Wayang ini tergolong wayang modern. Wayang ini terbuat dari kulit yang diberi pakaian lengkap lazimnya manusia, dan gambarnya pun mirip manusia. Cerita dari wayang suluh ini diambil dari kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Diantara tokoh peraganya, antara lain terdapat Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Syahrir, dan Jenderal tokoh pada wayang suluh berpakaian serupa pakaian yang sebenarnya, misalnya Bung Karno dan Bung Hatta mengenakan jas dan peci. Tokoh-tokoh wayangnya pun ditancapkan pada batang pisang. Gunungan yang dipakai pada wayang itu antara lain tergambar garuda Pancasila, lambang negara Pancasilawayang pancasilaWayang pancasila adalah cerita wayang mirip wayang purwa. Bedanya, tokoh-tokoh dalam wayang ini adalah pejuang-pejuang bangsa Indonesia, dan cerita dari wayang tersebut juga tentang perjuangan bangsa Indonesia. Wayang ini bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalime para Potehiwayang potehiWayang Potehi merupakan seni pertunjukan wayang yang berasal dari Tiongkok, tepatnya Tiongkok Selatan. Diperkirakan wayang Potehi sudah berumur 3000 tahun. Kesenian wayang ini dibawa oleh etnis Tionghoa yang datang ke Indonesia, kemudian menyebar ke penjuru nusantara. Wayang potehi menceritakan kisah-kisah dari negeri Tiongkok, di antaranya Si Jin Kui, Sam Pek Eng Thay. Wayang Potehi mempunyai ciri yang membedakannya dengan wayang-wayang jenis lain. Pertama, wayang Potehi merupakan wayang boneka yang terbuat dari kain, dalam pertunjukannya sang dalang memasukkan tangan ke dalam wayang tersebut, jadi hampir mirip seperti memainkan boneka tangan. Kedua, Pertunjukan wayang ini tidak diiringi oleh gamelan, melainkan sejenis musik yang disebut gubar-gubar, biola, dan Rizem. 2012. Atlas Tokoh-tokoh Wayang Yogyakarta Diva Press.Mulyono, Sri. Wayang. 1978. Asal usul, Filsafat, dan Masa Depannya Jakarta PT Gunung Agung.Tim Penulis Sena Wangi. 1999. Ensiklopedia Wayang Indonesia Jakarta Sena Wangi.Similar Posts
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Indonesia memiliki banyak tradisi dan budaya yang beragam, bermakna, dan unik. Hal ini menjadi tidak heran apabila banyak Indonesianist yang akhirnya penasaran dan membuat riset mengenai budaya Indonesia. Pembahasan kali ini akan didasari salah satu teori yaitu kajian budaya atau cultural studies. Kajian budaya ini merupakan teori yang mendalami konteks keadaan dan kondisi dalam suatu budaya. Hal ini akan sesuai pada pembahasan terkait pertunjukkan wayang dalam menghadapi konteks global dan budaya Pemuda yang pastinya mengalami banyak perspektif baru dan kondisi serta keadaan yang satunya seperti riset yang ditulis oleh Matthew Isaac Cohen dengan judul "Contemporary Wayang in Global Contexts". Matthew Isaac Cohen sudah belajar wayang kulit di jawa hampir 6 tahun lamanya. Pada penelitiannya Cohen menjelaskan tentang bagaimana wayang ditempatkan dalam konteks global yang dimulai pada masa kolonial. Hal ini sangat menarik sebab dari risetnya dapat diketahui sudut pandang budaya wayang di negara luar. Hal ini terlihat dari penjelasan Cohen bahwa pada awal abad 20, wayang juga akan menginspirasi praktisi teater Eropa dan Amerika Cohen, 2007, h. 340. Jadi, tidak heran bagi kita bagaimana wayang mampu berkembang di negara risetnya, Cohen menceritakan salah satu penggemar wayang terbesar di Eropa yang Bernama Edward Gordon Craig yang mengambil fokus masalah yang cukup menarik. Craig mengecam para philologists karena menggambarkan konstruksi wayang tanpa mengacu pada teater fungsionalitas angka terutama gambaran awal Raffles tentang wayang dalam The History of Java Cohen, 2007, h. 342. Hal ini tentu memberi informasi baru yang konteksnya di luar Indonesia tentang bagaimana mereka mengambarkan konstruksi wayang. Cohen juga menjelaskan bagaimana Pandam didorong untuk melakukan pertunjukkan wayang di Amerika Serikat sebagai cara mengkomunikasikan tentang budaya Jawa. Alhasil, Padam berkolaborasi dengan James Brandon untuk memproduksi pertunjukkan wayang kulit dengan mahasiswa Brandon teater asia bahkan bekerja sama dalam meluncurkan buku yang diterbitkan oleh Harvard University Press as On Thrones of Gold Cohen, 2007, h. 352 . Hal ini mengagumkan terkait pertunjukan wayang kulit yang mampu menarik minat di luar Indonesia hingga diterbitkan dalam bentuk buku. Cohen 2007, h. 362 menjelaskan bahwa sampai sekarang masih banyak performers luar Indonesia dengan pengetahuan praktis dan mendalam tentang wayang Jawa dan Bali bahkan tradisi wayang telah diangkut dan ditransformasikan ke luar Indonesia. Riset yang diteliti Cohen ini sangat memberikan pengetahuan luas tentang wayang dari berbagai sudut pandang dunia kepada kita. Cohen membawakan riset ini dengan menarik karena mengkaitkan berbagai perspektif terutama dalam mendalami kondisi serta keadaan seperti dasar teori kajian budaya dan sejarah tentang wayang bahkan penyebarannya ke luar satu riset yang menarik lainnya tentang wayang yang dianalisis oleh Indonesianist bernama Miguel Escobar Varela yang membahas tentang wayang Hip Hop. Hal ini menjadi menarik karena dalam risetnya, ia membahas bagaimana salah satu tradisi pertunjukan tertua di Jawa yaitu Wayang bertemu budaya pemuda wayang Hip Hop yang dianalisis Miguel Escobar Varela menjelaskan pro dan kontranya masing-masing mengenai Wayang Hip Hop. Pada risetnya dijelaskan bahwa perpaduan wayang dan hip hop ini bertujuan untuk menyesuaikan perubahan sosial budaya yang cepat tetapi tetap melestarikan dan tidak menghilangkan aspek etika dan estetika Jawa dalam pertunjukan wayang ini. Hal ini dianggap untuk membangun interaksi secara sengaja dan canggih dari warisan jawa dan musik pemuda global. Wayang hip hop ini juga lebih mengeksplorasi masalah kontemporer dengan penonton dibandingkan pencarian spiritual para pangeran wayang tradisional, tetapi tetap mengandalkan pengetahuan budaya penonton. Wayang hip hop berdasarkan riset ini dinilai mampu menyesuaikan diri dengan berbagai pengaturan penampilan Varela, 2014. Oleh karena itu, Riset yang ditulis Miguel Escobar Varela tentang wayang hip hop ini terasa bagaimana tradisi pertunjukan seperti wayang digabungkan dengan pertunjukan musik di zaman modern dalam rangka untuk menyesuaikan perubahan tanpa melupakan tradisi wayang tersebut. Varela kembali menjelaskan bahwa wayang Hip Hop banyak mendapatkan kontra dan kritikan. Tertulis dalam risetnya bahwa direktur lokal asosiasi wayang Indonesia mengatakan bahwa karakter wayang yang berada dalam lingkup spiritual tinggi, tetapi ketika diwakili dengan Hip Hop, unsur keindahan dan nilai moral tidak ada. Kritik lainnya yang didapatkan adalah bahwa penampilan mereka digambarkan dengan bentuk yang dangkal dan 'mutilasi brutal' Varela, 2014. Bahkan banyak pencinta wayang justru takut bentuk pertunjukan asli wayang memudar menjadi budaya anak muda. Kritikan ini tentu sangat relevan karena budaya dan tradisi asli perlu dipertahankan ketika menghadapi perubahan dua riset tersebut yang dibawakan oleh Matthew Isaac Cohen dan Miguel Escobar Varela tentang salah satu kultur Indonesia berupa Wayang memberikan sejumlah sudut pandang baru. Kedua riset ini dapat saling melengkapi satu sama lain. Hal ini karena dari riset Cohen mampu menjelaskan bagaimana budaya wayang dalam konteks dunia, sedangkan pada riset Varela memberi pengetahuan bagaimana tradisi wayang menghadapi budaya yang 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya
pertunjukan wayang tersebut mampu bertahan sampai sekarang karena